Sunday, September 2, 2018

cari dana proyek ?...cek ini

Pada umumnya pembiayaan proyek, masih menurut Finnerty (2007), berasal dari pinjaman institusi perbankan, intitusi pembangunan (seperti World Bank, dan ADB), bonds, dan equity. Selain itu, institusi keuangan lainnya seperti dana pensiun dan asuransi dapat pula ikut serta dalam pembiayaan proyek.




Bonds atau kupon tak lain merupakan sekuritas yang merepresentasikan surat hutang dan diperjualbelikan pada pasar modal (Gitman & Zutter, 2012). Perlu diperhatikan bahwa bonds tersebut haruslah dinilai (to be rated) oleh setidaknya 2 lembaga pemeringkat, seperti Moody’s atau S&P, agar dapat dipercaya oleh pasar (Finnerty, 2007).

Bagaimana bentuk penilaian yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat tersebut?

Secara garis besar, lembaga pemeringkat tersebut mengevaluasi kemungkinan terjadinya default (kegagalan) atas proyek tersebut. Hal ini dilakukan dengan melakukan penilaian paparan risiko (risk assessment) dari berbagai aspek terhadap proyek. Hasil evaluasi tersebut adalah rating.

Nilai rating tersebut berbentuk nilai huruf yang dapat dikelompokkan menjadi dua: investment-grade dan non-investment-grade. Adapun bentuk nilai yang digunakan antarlembaga pemeringkat berbeda tetapi serupa. S&P menggunakan bentuk nilai AAA, AA+, AA, AA-, hingga BBB- untuk bonds yang dinilai masuk investment-grade,bentuk nilai BB+, BB, hingga C untuk bonds yang dinilai masuk non-investment-grade, dan D untuk kondisi default. Sedangkan Moody’s menggunakan bentuk nilai Aaa, Aa1, Aa2, Aa3, A1, hingga Baa3 untuk kondisi investment-grade, bentuk nilai Ba1 hingga Ca untuk kondisi non-investment-grade, dan C dan / untuk kondisi default (Moody’s Investor Service, 2009; Standard & Poor’s Financial Service, n.d).

Bagaimana cara melakukan penilaian risiko?

Pada umumnya, risiko dinilai dengan mengidentifikasi berbagai macam ketidakpastian yang ada. Ketidakpastian tersebut ditelusuri per kategori, seperti ketidakpastian sumber pembiayaan, ketidakpastian politik, ketidakpastian keamanan, dan lain-lain.

Kemudian turut pula dilakukan perhitungan probilitas terjadinya berbagai dampak akibat ketidakpastian yang ada.

Suatu konsep penting yang tak boleh dilupakan adalah kategori risiko. kategori risiko ini diperlukan agar diketahui apakah suatu kejadian memiliki risiko tinggi, sedang, atau rendah. kategori dilakukan dengan membuat kamus yang mendefinisikan rentang besaran dampak dan probilitas yang masuk dalam tiap kategori. Salah satu bentuk kamus ini dikenal dengan sebutan probability & impact matrix

Dengan mengetahui besar dampak dan probabilitas suatu risiko, maka kategori risiko tersebut dapat diketahui dan kemudian dapat pula ditentukan prioritas penanganannya: terima, mitigasi, atau hapus.

Catatan: cara penilaian risiko sebagaimana telah disebutkan merupakan gambaran cara sederhana yang umum digunakan.

Khusus untuk aspek finansial, pembiayaan suatu proyek yang bernilai amat besar seringkali dilakukan dengan bermacam nilai mata uang. Hal ini dikarenakan keterlibatan lembaga pembiayaan, yang biasanya, berasal dari bermacam negara. Sebagai contoh, pembangunan fasilitas X di suatu daerah melibatkan lembaga pembiayaan dari RRC, Jepang, dan Amerika Serikat. Tentunya mata uang yang digunakan dapat berupa dolar AS, yen Jepang, maupun won RRC, dan tentu saja rupiah Indonesia (ini digunakan khususnya untuk membeli bahan baku dari dalam negeri). Padahal nilai tukar mata uang cenderung tidak stabil. Untuk memitigasi risiko naiknya biaya proyek secara signifikan sebagai akibat ketidakstabilan nilai tukar, maka pembiayaan proyek memerlukan suatu instrumen finansial tertentu. Instrumen ini dinamakan derivative.

Jika merujuk pada investopedia (n.d.), derivative didefinisikan sebagai

a security with a price that is dependent upon or derived from one or more underlying assets. The derivative itself is a contract between two or more parties based upon the asset or assets. Its value is determined by fluctuations in the underlying asset.

Umumnya terdapat 4 jenis derivative yaitu swaps, forwards, options, dan futures(Finnerty, 2007).

Swaps merupakan suatu instrumen yang digunakan untuk “merekayasa ketidakpastian”. Contohnya adalah interest-rate swaps dan credit-default swaps. Interest-rate swaps merupakan bentuk swaps yang digunakan untuk mengubah floating-rate yang digunakan saat melakukan peminjaman menjadi bentuk fixed-rate. Sedangkan credit-default swaps merupakan bentuk swaps yang digunakan oleh pemberi pinjaman untuk “mengasuransikan” kemungkinan peminjam mengalami gagal bayar.

Options atau opsi merupakan suatu instrumen yang memberikan kuasa bagi pemegangnya, tetapi tidak wajib, untuk melakukan suatu tindakan. Tindakan yang dikuasakan ini dapat berbentuk kuasa untuk membeli suatu aset (call option) dan kuasa untuk menjual suatu aset (put option). Call option akan menguntungkan pemegangnya jika ternyata aset yang menjadi objek memiliki peningkatan harga pasar yang jauh lebih besar dari harga yang harus dibayar (strike price) oleh pemegang kuasa jika menggunakan hak call option-nya. Sedangkan put optionakan menyelamatkan pemegangnya dari kerugian jika nilai aset yang menjadi objek turun lebih rendah dari strike price.

Forwards dan futures sebenarnya serupa, tetapi terdapat perbedaan yang cukup mendasar. Walau demikian forwards dan futures sama-sama merupakan suatu perjanjian jual beli yang mewajibkan pembeli untuk membeli sesuatu dengan harga yang telah ditentukan dengan besaran tertentu pada waktu tertentu di masa depan. Perbedaan antara forwards dan futures terdapat pada penetapan harga. Dalam forwards, penetapan harga hanya dilakukan sekali dan tak dapat diubah. Sementara bagi futures, harga dapat ditetapkan ulang tiap hari kerja dengan batas-batas nilai tertentu.

Catatan: penjelasan lengkap disertai contoh terkait derivatives dapat dilihat pada buku Corporate Financial Management karangan Douglas R Emery, John D Finnerty, dan John D Stowe.

Bagaimana pembiayaan proyek itu sebenarnya?

Sebagaimana telah disebutkan, pembiayaan bagi suatu proyek, khusunya yang memiliki nilai sangat besar, memerlukan skema tertentu. Berbeda dengan pembiayaan secara langsung (direct financing) yang nilainya lebih kecil, skema dalam pembiayaan proyek perlu ditata secara lebih hati-hati. Tentunya kondisi ini diakibatkan besarnya nilai proyek, nilai strategis proyek, serta banyaknya pihak yang terlibat dalam proyek tersebut sehingga paparan risiko yang ada menjadi cukup besar.

Perancangan skema dalam pembiayaan proyek, pada intinya, haruslah dapat memetakan sumber-sumber pembiayaan, entitas-entitas yang menjadi suppliersbagi masukan proyek, entitas-entias yang menjedi pembeli atas keluaran proyek, skema pembiayaan (pinjaman atau ekuitas), dana cadangan, hingga berapa besaran return yang didapat oleh tiap penyandang modal proyek.

Hal-hal tersebut seluruhnya dilakukan dalam evaluasi dan pemodelan finansial yang distrukturisasi dalam konsep-konsep berikut: struktur kepemilikan dan penyertaan ekuitas; skema pembiayaan jangka panjang, alokasi pendapatan, dan distribusi keuangan; proyeksi operating cashflow; kalkulasi EBIT, debt service, dan coverage ratio; dan kalkulasi distribusi keuangan dan residual value.

nas consultan

Author & Editor

layanan penerbitan bank garansi surety bond dan auransi